YOGYAKARTA, DAILYKOTA – Kabar duka menyelimuti dunia sepak bola Yogyakarta dengan kepergian Fajar Listiyantoro, mantan punggawa PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta, pada Sabtu dini hari, 25 Juli 2026. Sosok yang dikenal rendah hati ini meninggal dunia di usia 45 tahun setelah berjuang melawan penyakit ginjal kronis, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga serta para penggemar sepak bola di wilayah tersebut.
Sebelum Fajar Listiyantoro meninggal, ia telah menjalani perawatan intensif dan rutin melakukan hemodialisis atau cuci darah sejak Maret 2026. Kondisinya dilaporkan memburuk drastis dalam beberapa bulan terakhir, dengan peningkatan kadar kreatinin dan ureum serta tekanan darah tinggi. Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka Glondong, Tirtomartani, Kalasan, Sleman, sebelum dimakamkan di TPU Sasono Loyo, Tegal Kalibening, Sleman pada pukul 14.00 WIB.
Karier sepak bola Fajar Listiyantoro terbilang cemerlang, dimulai dengan PSS Sleman dari tahun 1999 hingga 2004, di mana ia turut membawa Elang Jawa promosi ke Divisi Utama. Setelah itu, ia membela PSIM Yogyakarta dari 2005 hingga 2007, dan juga sempat merumput bersama PPSM Magelang. Keahliannya dalam melempar bola ke dalam jarak jauh membuatnya dijuluki “lemparan roket”, sebuah teknik yang sangat diandalkan timnya.
Fajar juga pernah memperkuat Timnas Indonesia U-23, menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu pemain terbaik di masanya. Dedikasinya tidak berhenti di lapangan hijau; sebelum sakit, ia aktif melatih di SSB Potorono U-15, membimbing talenta-talenta muda yang bercita-cita mengikuti jejaknya di kancah sepak bola.
Kabar duka ini disampaikan langsung oleh sang kakak, Seto Nurdiyantoro, yang juga merupakan mantan pelatih PSS dan PSIM. Seto mengungkapkan rasa kehilangannya melalui media sosial.
“Selamat jalan Dik, damai di sisi Tuhan,” kata Seto Nurdiyantoro, mantan pelatih PSS dan PSIM.
Ungkapan belasungkawa juga datang dari manajemen PSS Sleman, yang merasa kehilangan atas sosok Fajar Listiyantoro.
“Keluarga besar PSS Sleman mengucapkan turut berduka cita atas berpulangnya Fajar Listiyantoro. Terima kasih atas dedikasi dan loyalitas yang telah diberikan,” kata PSS Sleman dalam pernyataan resminya.
Mengenang awal mula penyakitnya, Fajar Listiyantoro sempat berbagi kisahnya beberapa waktu lalu.
“Awalnya saya merasa gampang capek. Misalnya pas Sleman main saya lihat, atau PSIM main, naik tangga stadion sudah menggos-menggos. Saya merasa memang ada yang enggak beres,” kata Fajar Listiyantoro dalam wawancara pada 07/07/2026.
Kepergian Fajar Listiyantoro menjadi momen penyatuan bagi dua kubu suporter rival di Yogyakarta, PSS dan PSIM, yang sama-sama menghormati dedikasi almarhum. Komunitas sepak bola Indonesia turut merasakan kehilangan mendalam atas sosok yang dikenal rendah hati dan dekat dengan para suporter ini, dengan berbagai doa bersama digelar untuk mengenang jasanya.