Elektabilitas Gerindra
logo Gerindra. Foto Ist

, DAILYKOTA – Hasil terbaru dari Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) pada Juli 2026 menunjukkan adanya penurunan signifikan pada elektabilitas Gerindra. Partai Gerindra, yang merupakan partai penguasa, mengalami penurunan suara dari 29,3% pada –Maret 2026 menjadi hanya 16,9% pada Juli 2026, seiring dengan turunnya tingkat kepuasan publik terhadap Subianto.

Survei nasional ini, yang dilakukan antara 5–19 Juli 2026 dan hasilnya dipublikasikan akhir Juli 2026, bertujuan mengukur tren elektabilitas serta tingkat kepuasan masyarakat terhadap jalannya pemerintahan. Data ini dikumpulkan melalui wawancara tatap muka dan telepon dengan 749 responden, dengan margin of error sebesar ±3,7%.

Penurunan elektabilitas Gerindra tampaknya sejalan dengan anjloknya kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo. Data SMRC menunjukkan, kepuasan terhadap Presiden Prabowo yang pada November 2025 mencapai 81,2%, turun drastis menjadi 51,1% pada Juli 2026. Korelasi ini menjadi perhatian serius bagi masa depan partai.

“Penurunan kepuasan terhadap kinerja Presiden Prabowo terjadi bersamaan dengan memburuknya penilaian masyarakat terhadap kondisi , , dan penegakan hukum,” kata Deni Irvani, Direktur Eksekutif SMRC.

Menanggapi hasil survei ini, Ketua Harian Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, menyatakan bahwa data tersebut akan menjadi bahan evaluasi internal. Partai berencana mempelajari dan mengkaji temuan SMRC sebagai masukan berharga yang akan dibandingkan dengan kondisi aktual di lapangan.

“Iya, jadi bahan evaluasi. Kalau memang hasil kajiannya sesuai dengan keadaan pada saat itu, tentu kami pelajari dan kaji. Hasil survei adalah masukan yang akan dibandingkan dengan kondisi aktual di lapangan,” kata Sufmi Dasco Ahmad.

Analisis lebih lanjut dari Saiful Mujani Research & Consulting menunjukkan bahwa sebagai partai penguasa, citra dan elektabilitas Gerindra sangat erat kaitannya dengan kinerja presiden yang diusungnya. Ketika kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo menurun, otomatis berdampak pada dukungan terhadap partai.

Selain itu, potensi fragmentasi dukungan juga menjadi sorotan, mengingat 25,9% responden menyatakan belum menentukan pilihan mereka. Kondisi ini membuka peluang bagi partai politik lain untuk merebut basis suara yang sebelumnya mungkin condong ke Gerindra, memengaruhi peta politik menuju 2029.

Untuk menghadapi tantangan ini, Partai Gerindra perlu segera mengevaluasi strategi politiknya. Perbaikan komunikasi publik, penguatan ekonomi yang menyentuh langsung masyarakat, serta komitmen nyata terhadap penegakan hukum menjadi langkah krusial untuk mengembalikan kepercayaan dan meningkatkan kembali elektabilitas Gerindra.

Penurunan elektabilitas Gerindra di awal masa pemerintahan bisa menjadi faktor penting dalam dinamika menuju Pemilu 2029. Partai oposisi juga dapat memanfaatkan momentum ini untuk mengkritisi kebijakan pemerintah dan menawarkan alternatif solusi, memperketat persaingan politik.

Secara keseluruhan, survei SMRC Juli 2026 ini menegaskan adanya korelasi kuat antara kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo dan elektabilitas Gerindra. Penurunan signifikan ini merupakan alarm politik bagi Gerindra untuk segera melakukan evaluasi strategi, memperkuat program ekonomi, dan memperbaiki citra pemerintahan. Tanpa langkah cepat, peluang partai lain merebut basis suara terbuka lebar menjelang Pemilu 2029.*