MAGELANG, DAILYKOTA – Ribuan umat Buddha dari berbagai penjuru dunia secara resmi mengikuti gelaran Indonesia Tipitaka Chanting ke-11 di kawasan Taman Lumbini, Candi Borobudur, Magelang. Acara yang berlangsung pada 24/07/2026 hingga 26/07/2026 ini bertujuan untuk memperkuat penghayatan Dhamma serta memperingati hari besar Asadha Mahapuja.

Kegiatan spiritual yang sakral ini dipimpin langsung oleh Bhante Guttadhammo Mahāthera yang bertindak sebagai Ketua Panitia. Pelantunan kitab suci secara massal ini menjadi momentum penting bagi umat untuk mengenang kembali peristiwa pembabaran Dhamma pertama kali oleh Buddha Gotama.

“Tahun ini, Indonesia Tipitaka Chanting diikuti sekitar 2.000 peserta dari dalam dan luar negeri. Kegiatan ini bertujuan agar umat Buddha menjadikan Tipitaka sebagai standar patokan dalam memahami dan mempraktikkan ajaran Buddha,” kata Bhante Guttadhammo Mahāthera, Ketua Panitia ITC 2026.

Pelaksanaan besar ini juga sejalan dengan dukungan pemerintah melalui Kementerian Agama dalam memfasilitasi berbagai layanan keagamaan bagi umat Buddha di Indonesia. Selain spiritualitas, kegiatan tahunan ini terbukti memberikan dampak yang cukup signifikan bagi masyarakat di sekitar wilayah Magelang.

Data dari pihak panitia menunjukkan adanya potensi perputaran ekonomi lokal yang mencapai angka Rp10 hingga Rp15 miliar selama periode acara berlangsung. Peningkatan religi ke kawasan Borobudur tercatat naik hingga 15 persen berkat antusiasme tinggi para peserta Indonesia Tipitaka Chanting ke-11.

“Kita belajar dan praktik Dhamma sehingga dalam perjalanan hidup selalu bertemu dengan orang bijaksana yang mampu membimbing kita hingga bebas dari dukkha,” kata Bhante Guttadhammo Mahāthera.

“Mengikuti Tipitaka Chanting membuat saya lebih mampu mengendalikan diri, menjalankan sila, dan melatih kesabaran dalam kehidupan sehari-hari,” kata Wododo, Peserta ITC 2026.

Pemerintah Kabupaten Magelang turut memberikan dukungan penuh berupa penyediaan fasilitas transportasi tambahan serta terpadu. Hal ini dilakukan guna memastikan seluruh rangkaian ritual keagamaan di situs warisan dunia tersebut berjalan dengan khidmat dan tertib hingga acara puncak. ***