JAKARTA, DAILYKOTA – Fenomena kerajinan Hama Beads kini semakin populer di Indonesia hingga pertengahan 18/07, menyusul maraknya konten kreatif di media sosial. Aktivitas menyusun manik-manik plastik di atas papan berpola ini tidak hanya sekadar hobi, tetapi telah berkembang menjadi peluang bisnis menjanjikan di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Para pengrajin memanfaatkan teknik pemanasan dengan setrika untuk menyatukan manik-manik menjadi karya seni yang unik.
Tren kerajinan Hama Beads di Indonesia tercatat mengalami lonjakan peminat yang signifikan sejak awal tahun 2025. Produk yang dihasilkan sangat beragam, mulai dari gantungan kunci, hiasan meja, hingga dekorasi dinding dengan harga jual berkisar antara Rp20.000 hingga Rp75.000 per item. Harga bahan bakunya pun relatif terjangkau, di mana satu set manik-manik dipasarkan dengan harga Rp50.000 sampai Rp150.000 tergantung pada ukurannya.
Pemerintah sendiri terus mendorong sektor ini melalui payung hukum UU No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat. Berdasarkan data komunitas kreatif, saat ini terdapat lebih dari 200 kreator aktif di tanah air yang mulai menjadikan kerajinan Hama Beads sebagai sumber pendapatan tambahan. Peningkatan omzet penjualan dilaporkan mencapai 40 persen melalui platform e-commerce dalam beberapa bulan terakhir.
“Hama Beads bukan sekadar hobi, tapi sudah menjadi peluang usaha. Banyak anggota komunitas kami yang berhasil menjual karya mereka secara online dengan keuntungan yang menjanjikan,” kata Rani Pratiwi, Ketua Komunitas Kreatif Pixel Art Indonesia.
“Saya mulai dari membuat karakter anime dengan Hama Beads. Awalnya hanya untuk koleksi pribadi, tapi sekarang banyak pesanan custom dari teman-teman dan pelanggan online,” kata Dimas Arya, Kreator Muda asal Jakarta.
Kreativitas yang terus berkembang membuat kerajinan Hama Beads diprediksi akan terus bertahan sebagai salah satu komoditas industri kreatif yang stabil. Selain mengasah ketelitian dan motorik, kerajinan ini memberikan ruang bagi anak muda untuk berekspresi sekaligus mandiri secara ekonomi. Kolaborasi antar komunitas di berbagai wilayah diharapkan mampu memperkuat ekosistem usaha mikro di sektor kerajinan tangan ini.