, DAILYKOTA kokoh di posisi pertama sebagai provinsi dengan investasi hilirisasi nasional tertinggi pada semester pertama 2026, mencapai Rp56,1 triliun. Capaian ini menegaskan peran strategis Sulawesi Tengah dalam peta industri pengolahan dan hilirisasi nasional secara signifikan.

Data dari Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) yang diterima Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menunjukkan bahwa angka tersebut menempatkan Sulawesi Tengah di puncak nasional untuk lokasi hilirisasi pada periode Januari-Juni 2026. Dominasi Sulawesi Tengah dalam hilirisasi nasional sangat terlihat dari kontribusinya.

Nilai investasi hilirisasi di Sulawesi Tengah tersebut menyumbang sekitar 18,7 persen dari total realisasi hilirisasi nasional yang mencapai Rp300,1 triliun. Hal ini berarti hampir seperlima dari seluruh investasi hilirisasi nasional pada semester pertama 2026 berlokasi di provinsi ini, menunjukkan kuatnya potensi hilirisasi di Sulawesi Tengah.

“Capaian tersebut menjadi gambaran kuatnya aktivitas investasi dan industri pengolahan di daerah,” kata , . menekankan bahwa angka ini merefleksikan keberhasilan kebijakan hilirisasi di tingkat lokal.

Secara keseluruhan, realisasi investasi di Sulawesi Tengah selama Januari-Juni 2026 mencapai Rp68,70 triliun. Angka ini telah mencapai 73,17 persen dari target investasi tahunan Sulawesi Tengah yang ditetapkan sebesar Rp93,89 triliun, mengindikasikan momentum positif dalam pencapaian target. Investasi hilirisasi nasional di daerah ini menjadi pendorong utama.

Besarnya kontribusi hilirisasi juga terlihat dari komposisinya, di mana investasi hilirisasi sebesar Rp56,1 triliun menyumbang sekitar 81,66 persen dari total realisasi investasi Sulawesi Tengah pada semester pertama tahun ini. Capaian ini juga menempatkan Sulawesi Tengah di peringkat keempat nasional untuk realisasi investasi secara keseluruhan.

Di sektor Penanaman Modal Asing (PMA), Sulawesi Tengah berada di posisi ketiga nasional dengan kontribusi 12,7 persen terhadap total PMA. Namun, untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), posisi Sulawesi Tengah masih berada di peringkat ke-21 nasional, menunjukkan area yang perlu ditingkatkan di luar sektor hilirisasi.

Secara nasional, investasi hilirisasi pada semester pertama 2026 mencapai Rp300,1 triliun, dengan sektor mineral menjadi penyumbang terbesar sebesar Rp206,5 triliun. Komoditas mendominasi hilirisasi mineral dengan nilai investasi mencapai Rp71 triliun, menegaskan pentingnya nikel dalam investasi hilirisasi nasional.

melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (DPMPTSP) terus mendorong iklim investasi melalui pelayanan perizinan yang lebih efektif, sederhana, transparan, dan akuntabel. Upaya ini diharapkan dapat mempertahankan posisi terdepan hilirisasi nasional Sulawesi Tengah.

Di tengah capaian impresif ini, pemerintah daerah juga menghadapi tantangan untuk memastikan pertumbuhan investasi tidak hanya terkonsentrasi pada sektor tertentu. Diversifikasi sektor investasi menjadi penting agar Sulawesi Tengah dapat memiliki basis yang lebih luas dan berkelanjutan, tidak hanya bertumpu pada hilirisasi nasional.

Dengan capaian semester pertama yang telah mencapai lebih dari 73 persen target tahunan, Sulawesi Tengah kini memiliki peluang besar untuk menembus target investasi Rp93,89 triliun hingga akhir 2026. Hal ini didukung kuat oleh capaian gemilang dalam hilirisasi nasional yang telah dicapai.