JAKARTA, DAILYKOTA – Fenomena Hujan Meteor Perseid 2026 siap menghiasi langit Indonesia mulai malam 12 Agustus hingga dini hari 13 Agustus 2026. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama komunitas astronomi amatir mengajak masyarakat mengamati salah satu hujan meteor tahunan paling aktif ini, terutama di lokasi bebas polusi cahaya, bertepatan dengan fase Bulan Baru yang menjanjikan visibilitas optimal.
Hujan meteor Perseid ini berasal dari serpihan debu komet 109P/Swift-Tuttle yang berdiameter sekitar 26 kilometer. Para pengamat bisa menyaksikan hingga 100-150 meteor per jam dalam kondisi ideal. Kecepatan meteor saat memasuki atmosfer mencapai ±59 kilometer per detik, seringkali menghasilkan fenomena fireballs atau bola api meteor yang lebih terang dan meninggalkan jejak cahaya lebih lama di langit malam.
Periode aktif Hujan Meteor Perseid 2026 sendiri berlangsung dari 17 Juli hingga 24 Agustus, dengan puncaknya pada 12-13 Agustus. Pengamatan terbaik dilakukan dengan mata telanjang di lokasi yang gelap, mengarahkan pandangan ke timur laut, khususnya menjelang subuh. Namun, perlu diperhatikan bahwa polusi cahaya perkotaan dan cuaca mendung dapat mengurangi peluang menyaksikan keindahan Hujan Meteor Perseid 2026 ini.
“Fenomena hujan meteor Perseid dapat diamati dari seluruh wilayah Indonesia, terutama di lokasi bebas polusi cahaya. Tahun ini sangat ideal karena bertepatan dengan fase Bulan Baru,” kata perwakilan Divisi Astronomi BRIN.
Memanfaatkan momentum ini, Pekan Astronomi Amatir Nasional (PAAN) 2026 akan digelar pada 6-12 Agustus di beberapa kota seperti Yogyakarta, Lumajang, Surabaya, dan Sumenep. Acara ini mencakup observasi Perseid, Sidewalk Astronomy, Astro Kids, Workshop Roket Air, dan pameran astrofotografi, bertujuan mendekatkan masyarakat dengan astronomi.
Pekan Astronomi Amatir Nasional juga menyediakan siaran teleskop daring melalui platform TikTok, YouTube, dan Instagram, memungkinkan lebih banyak orang menyaksikan fenomena Hujan Meteor Perseid 2026 secara virtual. Panitia bahkan menyiapkan hadiah teleskop bagi komunitas terbaik yang menjadi host event lokal, mendorong partisipasi aktif.
“Observasi Perseid menjadi salah satu acara utama Pekan Astronomi Amatir Nasional. Kami ingin masyarakat lebih dekat dengan keindahan alam semesta,” kata Mutoha Arkanuddin, Ketua Panitia PAAN 2026.
“Kami menyiapkan kegiatan Star Party agar masyarakat bisa menyaksikan Perseid bersama-sama dengan panduan astronom amatir,” tambah Komunitas Jogja Astro Club.
Kondisi Bulan Baru pada 12 Agustus dipastikan membuat langit lebih gelap, sebuah faktor krusial yang akan mengoptimalkan pengalaman pengamatan Hujan Meteor Perseid 2026. Oleh karena itu, bagi para pecinta astronomi dan masyarakat umum, momen ini adalah kesempatan langka untuk menyaksikan pertunjukan cahaya alami yang spektakuler.*