JAKARTA, DAILYKOTA – Negara-negara anggota ASEAN melalui Majelis Antar-Parlemen se-ASEAN (AIPA) menggelar Pertemuan Ke-17 Kaukus AIPA pada Rabu, 22 Juli 2026, di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta. Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam Peringatan 50 Tahun TAC (Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia) untuk menegaskan kembali komitmen menjaga perdamaian, stabilitas, dan sentralitas kawasan di tengah dinamika geopolitik global.
Peringatan 50 Tahun TAC ini bertepatan dengan usia perjanjian damai yang ditandatangani di Bali pada 24 Februari 1976 oleh lima negara pendiri ASEAN. Prinsip-prinsip TAC, seperti penyelesaian sengketa secara damai dan penghormatan kedaulatan, telah menjadi fondasi utama. Nilai-nilai tersebut diperkuat oleh konsep ASEAN Way yang menekankan musyawarah dan diplomasi konstruktif, menjaga hubungan antarnegara ASEAN selama Peringatan 50 Tahun TAC.
Kaukus AIPA Ke-17, dengan tema “Peran Parlemen dalam Memperkuat Sentralitas ASEAN dalam Menghadapi Tantangan Global yang Kompleks,” menjadi forum strategis. Melalui fungsi pengawasan parlemen, AIPA memastikan prinsip TAC terus dijalankan di masing-masing negara anggota, terutama dalam Peringatan 50 Tahun TAC ini. Kawasan ASEAN, dengan populasi lebih dari 670 juta jiwa dan PDB gabungan mencapai USD 4,3 triliun, memiliki peran krusial. Peran sentralitas ASEAN ini menjadi fokus utama dalam setiap diskusi di Peringatan 50 Tahun TAC.
“ASEAN Way telah menjadi kekuatan utama yang menopang sentralitas ASEAN dan menjaga stabilitas kawasan. Nilai-nilai tersebut harus terus kita perkuat dan wariskan kepada generasi ASEAN berikutnya,” kata Puan Maharani, Ketua DPR RI.
“Indonesia akan terus bekerja agar ASEAN tetap relevan di dunia yang multipolar, dan sentralitas ASEAN tetap mampu menjadi navigasi kita bersama dalam dinamika geopolitik global,” tambah Puan Maharani.
Meluasnya keikutsertaan negara-negara di luar Asia Tenggara dalam TAC menjadi bukti pengakuan internasional yang semakin kuat. Hingga saat ini, lebih dari 40 negara telah bergabung dalam Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia, termasuk Uni Eropa, Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok. Fakta ini menegaskan relevansi prinsip-prinsip TAC dalam menjaga ketertiban regional dan global, dan semakin memperkuat makna Peringatan 50 Tahun TAC.
“TAC telah menjadi fondasi arsitektur politik dan keamanan ASEAN selama lima dekade. Di tengah lingkungan strategis yang semakin tidak pasti dan penuh tantangan, prinsip-prinsip yang terkandung dalam perjanjian ini terus menjadi pedoman bagi ASEAN,” kata Chem Widhya, Sekjen AIPA.
“Meluasnya keikutsertaan negara-negara di luar Asia Tenggara dalam TAC menunjukkan semakin kuatnya pengakuan masyarakat internasional terhadap sentralitas ASEAN,” lanjut Chem Widhya.
Melalui forum parlemen seperti Kaukus AIPA, komitmen terhadap nilai-nilai TAC dan ASEAN Way terus diperkuat. Peringatan 50 Tahun TAC bukan hanya sebatas perayaan, tetapi juga momentum refleksi dan perumusan strategi bersama untuk menghadapi tantangan masa depan, memastikan kawasan tetap damai dan sejahtera di tengah dinamika global. *