dailykota.com PALU – Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menerima audiensi Forum Likuefaksi Balaroa di ruang kerjanya, Jumat, 9 Januari 2026. Pertemuan itu membahas kelanjutan penataan kawasan terdampak likuefaksi Balaroa pascabencana gempa, tsunami, dan likuefaksi Palu 2018.
Audiensi di pimpin Ketua Forum Likuefaksi Balaroa, Abdul Rahman Kasim, dan di hadiri tokoh agama Husen Habibu serta perwakilan masyarakat penyintas. Forum menyampaikan aspirasi agar kawasan Balaroa tidak lagi di fungsikan sebagai permukiman. Melainkan di tetapkan sebagai Memorial Park atau taman memorial.
Abdul Rahman menegaskan, masyarakat masih memegang komitmen awal pemerintah yang menyatakan kawasan tersebut tidak akan di bangun kembali sebagai hunian. Menurutnya, lokasi itu memiliki nilai sejarah dan kemanusiaan yang kuat, mengingat masih terdapat korban yang belum di temukan sejak tragedi 2018.
“Kawasan ini adalah saksi tragedi kemanusiaan. Kami berharap pemerintah konsisten menjadikannya taman memorial sebagai ruang mengenang dan refleksi,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan, para penyintas kini tersebar di berbagai hunian tetap dan sementara dengan jumlah mencapai ribuan jiwa. Forum yang di bentuk menjadi wadah persaudaraan korban untuk memperjuangkan penataan kawasan secara bermartabat dan berkeadilan.
Menanggapi aspirasi tersebut, Anwar menyatakan dukungannya. Ia sepakat kawasan likuefaksi Balaroa tidak lagi di jadikan permukiman, tetapi di tata sebagai ruang memorial yang representatif sekaligus menjadi sarana edukasi kebencanaan.
“Saya sepakat kawasan itu di jadikan taman memorial. Bukan untuk hunian lagi, tetapi sebagai tempat mengenang, berziarah, sekaligus edukasi kebencanaan bagi generasi mendatang,” tegasnya.
Gubernur juga mendorong masyarakat membentuk yayasan atau badan hukum bersama untuk mengelola kawasan tersebut. Menurutnya, skema itu penting karena status lahan tetap milik warga, sehingga pengelolaannya harus di lakukan secara kolektif dan transparan.
“Tanahnya tetap milik masyarakat, tetapi di kelola bersama melalui yayasan agar tidak di kuasai secara pribadi. Silakan ajukan konsep Memorial Park, pemerintah akan mempelajarinya sesuai aturan,” jelas Anwar.
Selain penataan Memorial Park Balaroa, Pemprov Sulawesi Tengah juga merencanakan pembangunan museum kebencanaan pada 2027. Museum tersebut akan menjadi pusat dokumentasi dan edukasi terkait tragedi gempa, tsunami, dan likuefaksi Palu 2018, sekaligus penguatan literasi mitigasi bencana di Sulawesi Tengah.
Langkah ini di harapkan menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam menjaga memori kolektif, menghormati korban, dan memperkuat kesiapsiagaan bencana di masa depan. *