, DAILYKOTA – Anggota Firman Soebagyo menyoroti ketimpangan produksi kedelai nasional yang hanya 300 ribu ton dibanding kebutuhan mencapai 2,9 juta ton, dengan impor kedelai mencapai 2,56 juta ton pada 2025.

Data terbaru menunjukkan produktivitas kedelai nasional masih sekitar 1,6 ton per hektare, jauh di bawah target 3-4 ton per hektare. Pemerintah didorong melakukan intervensi menyeluruh dari hulu ke hilir.

“Produksi kedelai kita hanya sekitar 300 ribu ton, sementara kebutuhan mencapai hampir 3 juta ton. Padahal Indonesia punya varietas lokal seperti Grobogan dan Anjasmoro yang kualitasnya baik,” kata Firman Soebagyo dalam keterangannya, Kamis (13/08).

Menurut Badan Pusat Statistik, 90% impor kedelai RI berasal dari Amerika Serikat. Komisi IV DPR mengusulkan penyediaan lahan budidaya minimal 1 juta hektare dan pengembangan varietas lokal untuk mengurangi ketergantungan impor.

Firman menekankan pentingnya intervensi pemerintah mulai dari penyediaan lahan, bibit unggul, hingga pengendalian . “Harus ada keberpihakan nyata agar kedelai sejahtera dan Indonesia bisa surplus kedelai,” tegasnya.

Regulasi seperti UU No. 18/2012 tentang Pangan dan Perpres No. 22/2020 tentang Kebijakan Pangan Nasional dinilai perlu dioptimalkan untuk mendukung produktivitas kedelai nasional yang saat ini hanya memenuhi 10% kebutuhan dalam negeri.