MOROWALI, DAILYKOTA – Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, pada Rabu, 15 Juli 2026, meninjau langsung tiga unit puskesmas di Kabupaten Morowali. Didampingi Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Morowali, Jumiati, kunjungan ini bertujuan memastikan pelayanan kesehatan Morowali berjalan optimal, serta mengidentifikasi kebutuhan fasilitas yang masih kurang demi terpenuhinya hak masyarakat atas layanan kesehatan yang bermutu.
Peninjauan dilakukan di UPTD Puskesmas Bahunsuai, UPTD Puskesmas Wosu, dan UPTD Puskesmas Fonuasingko. Wagub Reny secara cermat memeriksa ruang IGD, ruang pelayanan, serta berdialog langsung dengan sejumlah pasien. Evaluasi fasilitas penunjang kesehatan menjadi fokus utama untuk memastikan setiap warga memperoleh standar pelayanan kesehatan Morowali yang layak.
Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Morowali berkomitmen penuh terhadap peningkatan kualitas kesehatan. Kabupaten Morowali sendiri memiliki 15 unit puskesmas aktif yang siap melayani masyarakat. Hal ini sejalan dengan Permenkes No. 4 Tahun 2019, yang mewajibkan puskesmas menyediakan layanan kesehatan dasar termasuk IGD, imunisasi, dan pelayanan ibu-anak, yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan Morowali.
Untuk mendukung upaya ini, anggaran kesehatan Morowali tahun 2026 mencapai Rp128 miliar. Dana tersebut dialokasikan khusus untuk peningkatan layanan kesehatan dasar, rehabilitasi puskesmas, dan pengadaan alat kesehatan yang esensial. Fokus pada anggaran ini menunjukkan keseriusan dalam mengoptimalkan pelayanan kesehatan Morowali.
“Kami ingin memastikan pelayanan kesehatan di Morowali berjalan optimal. Puskesmas adalah garda terdepan, sehingga fasilitas dan tenaga kesehatan harus benar-benar siap melayani masyarakat,” kata dr. Reny A. Lamadjido, Wakil Gubernur Sulteng.
Hasil peninjauan menunjukkan kondisi beragam di tiga puskesmas. Puskesmas Bahunsuai memiliki kondisi IGD yang baik dengan 85% stok obat terpenuhi, namun perlu tambahan alat monitoring pasien. Sementara itu, Puskesmas Wosu masih menghadapi tantangan kekurangan obat esensial dan ruang tunggu yang sempit, mempengaruhi efektivitas pelayanan kesehatan Morowali di lokasi tersebut.
Puskesmas Fonuasingko, dengan 90% stok obat terpenuhi, memerlukan perbaikan sistem ventilasi dan pendingin ruangan. Secara umum, setiap puskesmas memiliki rata-rata 25 tenaga kesehatan, termasuk dokter umum, bidan, perawat, dan tenaga farmasi, yang krusial bagi keberlangsungan pelayanan kesehatan Morowali.
“Hasil peninjauan ini akan menjadi bahan evaluasi untuk peningkatan kualitas pelayanan, termasuk kebutuhan tambahan alat kesehatan dan tenaga medis,” kata Jumiati, Sekretaris Dinas Kesehatan Morowali. Data capaian vaksinasi juga menggembirakan, dengan 92% anak usia sekolah dasar telah menerima imunisasi dasar lengkap.
Kunjungan Wakil Gubernur Sulteng ini memperlihatkan komitmen nyata pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan dasar. Dialog langsung dengan pasien memberikan gambaran valid tentang kepuasan masyarakat. Evaluasi fasilitas menjadi langkah penting untuk pemerataan pelayanan kesehatan Morowali di seluruh wilayah.
Optimalisasi fungsi puskesmas diharapkan dapat menekan angka rujukan ke rumah sakit, sehingga masyarakat Morowali dapat memperoleh pelayanan kesehatan yang lebih efisien dan terjangkau. Ini adalah upaya berkelanjutan untuk memperkuat garda terdepan kesehatan masyarakat.