TEHERAN, DAILYKOTA – Iran menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang melayani sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, sejak Selasa 11 Agustus 2026. Penutupan ini merupakan respons atas konflik berkepanjangan dengan Amerika Serikat, memicu kenaikan signifikan minyak global dan ketidakstabilan internasional.

Harga minyak mentah Brent melonjak 1,36 persen menjadi US$88,91 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 1,3 persen ke level US$83,20 per barel. Kenaikan harga minyak ini mencapai lebih dari 6 persen dalam sepekan terakhir sejak awal Agustus 2026, mencerminkan kekhawatiran pasar atas gangguan pasokan energi global akibat penutupan Selat Hormuz.

Iran secara drastis mengurangi lalu lintas kapal di Selat Hormuz dari rata-rata 130 kapal per hari menjadi hanya 6 hingga 8 kapal per hari. Langkah ini berarti gangguan serius terhadap aliran energi ke pasar global, terutama untuk negara-negara di Asia dan Eropa yang bergantung pada impor minyak dari kawasan Timur Tengah.

“Selama AS tidak mengubah perilakunya dan menerima syarat-syarat Iran, Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali,” ujar Mohsen Rezaei, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Rezaei mengonfirmasi bahwa penutupan jalur strategis ini akan terus berlanjut sampai Washington memenuhi tuntutan Teheran termasuk pencairan yang dibekukan dan penghentian blokade .

Dampak penutupan Selat Hormuz terlihat jelas pada pasar keuangan global. Bursa saham dunia melemah signifikan sementara indeks energi melonjak tajam, menciptakan volatilitas tinggi di pasar investasi. Investor global mulai beralih ke instrumen aman seperti reksadana pasar uang dan obligasi jangka pendek untuk menghindari risiko fluktuasi harga energi.

Kondisi pasokan energi yang kritis juga terlihat dari menurunnya cadangan minyak strategis Amerika Serikat ke bawah 300 juta barel, mencapai level terendah dalam 40 tahun terakhir. Angka ini menunjukkan ketegangan yang sangat serius pada keseimbangan pasokan dan permintaan energi global akibat penutupan Selat Hormuz.

Harga komoditas energi lain juga ikut terpengaruh. Batubara tetap diperdagangkan di atas US$140 per ton, menambah beban biaya energi bagi industri global. Ketidakstabilan harga Selat Hormuz dan produk energi lainnya mencerminkan ketidakpastian geopolitik yang belum terselesaikan antara Iran dan Amerika Serikat.

Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif mengatakan, “Situasi kembali mengarah pada kemungkinan adanya kesepakatan damai atau perjanjian.” Namun, pernyataan optimis ini dikontradiksi oleh sikap keras dari AS Donald Trump yang menyatakan, “Iran harus membayar ganti rugi kepada Amerika Serikat.”

Negosiasi antara Iran dan AS masih dalam posisi deadlock, dengan kedua belah pihak mempertahankan posisi mereka masing-masing. Analisis pasar memproyeksikan ketidakpastian pasokan energi akibat penutupan Selat Hormuz akan berlanjut hingga akhir tahun 2026, mempertahankan tekanan upward pada harga minyak dan volatilitas pasar keuangan global.

Para ahli energi memperingatkan bahwa jika penutupan Selat Hormuz berkepanjangan, dampak ekonomi akan meluas ke industri manufaktur, transportasi, dan sektor-sektor lain yang bergantung pada biaya energi kompetitif. Situasi ini memaksa pemerintah dan korporasi untuk mengembangkan strategi diversifikasi energi dan efisiensi untuk mengantisipasi krisis pasokan jangka panjang.