JAKARTA, DAILYKOTA – Memasuki bulan kesepuluh tahun ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan cuaca Oktober 2026 yang menunjukkan kondisi kontras antara potensi hujan lebat dan kekeringan di berbagai wilayah Indonesia.
Meskipun sebagian besar wilayah masih didominasi kondisi kering, BMKG mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi hujan sedang hingga lebat secara lokal selama periode 2–8 Oktober 2026.
Untuk periode awal, tanggal 2–4 Oktober 2026, cuaca di Indonesia umumnya diprediksi cerah berawan hingga hujan ringan. Namun, peningkatan intensitas hujan sedang berpeluang terjadi di beberapa provinsi seperti Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Papua Tengah, dan Papua.
Potensi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat juga perlu diwaspadai di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, dan Papua Pegunungan. Selain hujan, angin kencang diprakirakan berpotensi melanda Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Papua Selatan.
Memasuki tanggal 5–8 Oktober 2026, beberapa wilayah masih berpotensi mengalami peningkatan hujan sedang. Daerah yang diprediksi terdampak meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, dan Papua Tengah. Masyarakat diharapkan terus memantau prakiraan cuaca Oktober 2026 ini.
Pada periode tersebut, Papua Pegunungan tetap menjadi wilayah dengan potensi hujan lebat hingga sangat lebat. Selain itu, potensi angin kencang juga perlu diwaspadai di Maluku Utara, Sulawesi Tengah, dan Nusa Tenggara Barat. Keseluruhan prakiraan cuaca Oktober 2026 ini menunjukkan dinamika atmosfer yang kompleks.
Di sisi lain, BMKG juga menyoroti bahwa kondisi kering belum sepenuhnya berakhir. Pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) hingga Dasarian II September menunjukkan banyak wilayah mengalami hari tanpa hujan dalam kategori panjang hingga ekstrem panjang. Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla).
Perbedaan kondisi cuaca yang ekstrem ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang berlangsung secara bersamaan. Aktivitas gelombang Rossby Ekuatorial dan Kelvin dapat meningkatkan peluang pertumbuhan awan di wilayah tertentu, sementara penguatan Monsun Australia cenderung mempertahankan kondisi lebih kering, khususnya di bagian selatan Indonesia.
Suhu muka laut yang relatif hangat, serta adanya daerah konvergensi, perlambatan, dan belokan angin, juga dapat mendukung pembentukan awan konvektif. Oleh karena itu, hujan lebat masih dapat muncul meskipun secara umum curah hujan rendah diprakirakan mendominasi sebagian besar wilayah, sesuai dengan prakiraan cuaca Oktober 2026.
Masyarakat di wilayah yang masih kering diimbau untuk menghemat penggunaan air dan menghindari aktivitas pemicu kebakaran. Pembakaran sampah maupun pembukaan lahan dengan cara membakar sebaiknya dihindari, terutama di area gambut, semak, dan kawasan hutan.
Sementara itu, masyarakat di wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat perlu mengantisipasi genangan, tanah longsor, sambaran petir, dan angin kencang. BMKG menekankan pentingnya pemantauan informasi prakiraan cuaca Oktober 2026 terbaru secara berkala karena kondisi atmosfer dapat berubah secara lokal dan cepat.***