FLORES, DAILYKOTA – Gempa bumi berkekuatan M7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/08) pukul 09.15 WITA. Pusat gempa berada di Mbay, Nagekeo, dengan kedalaman 10-15 km, berpotensi memicu tsunami gelombang 0,5-3 meter. Dampak dirasakan hingga ke Ende, Maumere, Larantuka, dan Kupang. Respons cepat datang dari Badan Gizi Nasional (BGN) yang merevisi aturan darurat untuk memastikan pemenuhan gizi korban tetap terjaga.
Bencana gempa Flores ini memicu langkah tegas BGN merevisi Surat Edaran Nomor 7 Tahun 2025 menjadi SE Darurat 2026. Revisi aturan darurat tersebut mewajibkan setiap dapur SPPG terdekat siaga dan segera menyalurkan makanan bergizi kepada masyarakat terdampak. Instruksi utama dalam aturan baru adalah dapur SPPG yang terdampak wajib melaporkan kondisi dan mengutamakan keselamatan, sementara dapur SPPG terdekat yang tidak terdampak harus segera bertindak tanpa menunggu instruksi tambahan.
Koordinasi lintas sektor menjadi penekanan utama dalam respons gempa Flores M7,7 ini. Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, menegaskan pentingnya kecepatan dan sinkronisasi dalam melaksanakan aturan darurat terbaru. “Kami merevisi aturan darurat agar seluruh dapur SPPG bergerak cepat, terkoordinasi, dan tidak mengambil keputusan berdasarkan asumsi sendiri. Prioritas kami adalah keselamatan dan pemenuhan gizi masyarakat terdampak,” ujar Sudaryono di Jakarta, 15/08.
Data terkini menunjukkan 132 unit dapur SPPG aktif di Nusa Tenggara Timur siap bergerak membantu korban gempa Flores. Estimasi kebutuhan pangan darurat mencapai 50.000 paket makanan bergizi untuk 7 hari pertama, dengan nilai total Rp25 miliar. Anggaran tanggap darurat BGN sebesar Rp250 miliar telah dialokasikan dari APBN 2026 untuk memastikan distribusi makanan bergizi berjalan lancar dan terukur di seluruh wilayah terdampak.
Deputi Tanggap Darurat BNPB, Brigjen TNI Arif Santoso, mengakui peran krusial dapur SPPG dalam respons bencana. “Koordinasi dengan BGN sangat penting. Dapur SPPG menjadi tulang punggung distribusi makanan bergizi di lokasi bencana,” kata Arif Santoso dari Flores, 15/08. Laporan BNPB sementara mencatat puluhan meninggal dunia, ratusan luka-luka, dan ribuan mengungsi akibat gempa Flores M7,7 ini.
Kerusakan infrastruktur di wilayah gempa Flores M7,7 cukup parah. Listrik padam di Nagekeo, jalan penghubung rusak, serta sekolah dan fasilitas kesehatan hancur. Pemerintah pusat telah menetapkan koordinasi lintas sektor melibatkan BNPB, TNI, Polri, Kementerian Sosial, dan BGN. Dapur SPPG di wilayah sekitar Flores sudah mulai menyalurkan makanan bergizi sejak sore hari 15/08, mengikuti aturan darurat yang baru ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional untuk menghadapi situasi darurat gempa Flores M7,7 ini.