dailykota.com PALU – Sulawesi Tengah Anwar Hafid menegaskan bahwa rencana pembangunan di telah di tetapkan pemerintah pusat melalui Strategis Nasional (PSN) Neo Energi Parimo Industrial Estate (NEPIE) yang berlokasi di Desa Towera dan sekitarnya, Kecamatan Siniu.

Menurut Anwar Hafid, penetapan kawasan industri tersebut sudah berlangsung jauh sebelum dirinya menjabat sebagai gubernur. Namun, ia menyatakan dukungan penuh karena konsep yang di usung merupakan industri hijau yang ramah lingkungan.

“Parigi Moutong itu sudah lama di tetapkan sebagai PSN. Saya mendukung karena konsepnya green industry, bukan industri yang merusak lingkungan,” kata Anwar Hafid . Rabu, 4 Februari 2026.

Ia menjelaskan, industri ini akan mengolah kadar rendah (low grade) yang berasal dari Morowali. Di Morowali, nikel di olah menjadi produk setengah jadi, kemudian di kirim ke Parigi Moutong untuk proses lanjutan hingga ke tahap hilirisasi.

ini memiliki kawasan industri di Morowali dan Parigi. Morowali fokus pada pengolahan awal, sementara Parigi Moutong akan menjadi pusat pengembangan industri hingga ke hilir,” jelasnya.

Gubernur Anwar Hafid menekankan bahwa keunggulan utama industri di Kecamatan Siniu terletak pada penggunaan energi bersih. Pemerintah daerah, kata dia, tidak ingin Parigi Moutong mengalami dampak lingkungan seperti yang terjadi di Morowali akibat penggunaan batubara.

“Saya tidak ingin Parigi seperti Morowali yang dipenuhi asap. Industri di Siniu tidak menggunakan batubara,” tegasnya.

Sebagai gantinya, kawasan industri tersebut akan memanfaatkan Pembangkit Tenaga Air (PLTA) Banggaiba di dengan kapasitas sekitar 145 megawatt. Energi listrik dari PLTA tersebut akan langsung di salurkan ke kawasan industri.

Selain energi bersih, proyek PSN ini juga akan membuka akses infrastruktur baru. Gubernur menyebutkan, perusahaan akan membangun jalan penghubung dari Siniu menuju yang berjarak sekitar 20 kilometer.

“Nanti akan ada akses jalan baru dari Siniu ke Pantoloan. Ini akan memperkuat konektivitas dan membuka jalur ekonomi baru,” ujarnya.

Dengan bertambahnya akses tersebut, jalur masuk ke Kota Palu akan menjadi tiga, yakni melalui Toboli, Siniu–Pantoloan, serta Sausu yang tembus ke Kabupaten Sigi.

Gubernur Anwar Hafid optimistis industri nikel di Parigi Moutong akan menjadi industri masa depan yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Ia bahkan menyebutkan potensi pengembangan produk hilir seperti baterai hingga listrik.

“Ini bukan sekadar industri bahan mentah. Ke depan, kita bicara baterai dan kendaraan listrik,” katanya.

Sementara itu, Bupati Parigi Moutong Erwin Burase menyampaikan bahwa proses pengembangan kawasan industri saat ini masih berjalan secara bertahap. Dari target pengembangan sekitar 1.000 hektare, lahan yang siap baru mencapai sekitar 300 hektare di wilayah Kecamatan Siniu, Desa Towera dan sekitarnya.

“Pembangunan akan di mulai secara penuh setelah luasan kawasan mencapai 1.000 hektare,” ungkap Erwin.

Hingga kini, belum ada kepastian terkait perusahaan yang akan membangun industri nikel di kawasan tersebut. Sebelumnya, proyek ini di kaitkan dengan PT ATHI, namun belakangan muncul nama PT Anugerah Tambang Smelter (ATS) yang di sebut-sebut akan melanjutkan pengembangan kawasan industri tersebut.