dailykota.com PARIGI MOUTONG – “Perubahan iklim secara tidak langsung dapat memicu peningkatan terjadinya KDRT baik perempuan maupun laki-laki termasuk pada anak, sadar atau tidak sadar tetapi itu yang terjadi saat ini” Kata Maya Safira, Libu Perempuan, yang menjadi narasumber di Seminar Sosialisasi Perubahan Iklim Berkeadilan Gender di lantai 2 gedung Bupati Parigi Moutong. Kamis, 27 Pebruari 2025.
Menurut Maya, kontribusi perubahan iklim yang berdampak pada tingginya bencana seperti banjir dan tanah longsor juga gelombang tinggi dan puting beliung mempengaruhi pendapatan dari sektor petani dan nelayan.
Kontribusi bencana ini memperburuk situasi ekonomi yang berimbas pada kesehatan baik fisik maupun mental. Ujungnya, sambung Maya, kekerasan pada perempuan dan anak juga pernikahan usia dini terjadi.
Data SMFONI – PPA per 1 Januari 2025 mencatat angka KDRT di Sulawesi Tengah 85 kasus 7 di antaranya kekerasan terhadap laki-laki. 85% kejadian berasal dari rumah tangga dengan 38% pelakunya laki-laki.
Tahun 2023, Sulawesi Tengah menempati posisi kelima naisonal dalam angka pernikahan dini yang mencapai 12.65% berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Badan Pusat Statistik 2023.
Menurut dr. Giselle, HHS Yayasan IPAS (Inisitif Perubahan Akses menuju Sehat) Indonesia, stress menjadi akar utama terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Perubahan iklim menjadi salah satu pemicu. Hilangnya lahan hidup dan terganggunya produksi ekonomi juga peran ganda perempuan akibat perubahan iklim menjadi alasan kuat situasi seperti ini terjadi.
Selain itu, gangguan kesehatan terutama pada perempuan dan anak masuk dalam kategori rentan-tinggi. Baik kesehatan fisik maupun mental.
Aswini Dimpel, Staff ahli Pemda PARIMO bidang Ekonomi dan Kesra mengatakan kolaborasi Pemda PARIMO – IPAS – YMP sangat membatu pemerintah daerah dalam menangani masalah KDRT dan pernikahan dini di wilayah ini.
Namun, katanya, penting untuk melakukan pemetaan lokasi sasaran kegiatan, menyusun master plan kegiatan dan keterbukaan informasi antara pemda dan NGO.
“Kenapa? Biar tepat sasaran. Contoh locus pernikahan dini akibat kemiskinan ekstrim ada di wilayah Parigi Utara. Kami (Pemda) punya informasi locus, teman-teman dari NGO (IPAS-YMP-KPKPST) mau masuk dengan isu apa?. Kita saling mengisi dengan cara berbagi informasi.” Jelas Aswini.
Sosialisasi Perubahan Iklim Berkeadialan Gender yang di laksanakan oleh YMP – Yayasan IPAS Indonesia – KPKPST berlangsung di tiga kabupaten. Kabupaten Sigi (17/2/2025), Kabupaten Donggala (24/2/2025 dan yang terakhir di Kabupaten Parigi Moutong (27/2/2025).