PALU, DAILYKOTA – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sulawesi Tengah masih menjadi perhatian serius, dengan sejumlah kabupaten dan kota dilanda hingga akhir Agustus. Salah satu wilayah dengan luasan kebakaran signifikan adalah Kabupaten Tojo Una-Una.
Berdasarkan laporan yang disampaikan dalam rapat koordinasi penanganan karhutla dan kekeringan, sejumlah lokasi di Tojo Una-Una mengalami kebakaran dengan total luasan mencapai sekitar 83 hektare. Data tersebut menjadi sorotan utama Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, saat memimpin rapat di Ruang Rapat Polibu, Kantor Gubernur Sulawesi Tengah pada Senin, 31 September 2026.
Selain Tojo Una-Una, kejadian Karhutla Sulteng juga tercatat di Kota Palu, Banggai, Donggala, Parigi Moutong, Tolitoli, Poso, dan Buol. Di Kota Palu sendiri, kebakaran terjadi antara lain di kawasan Poboya dengan luasan sekitar satu hektare.
Anwar Hafid menegaskan bahwa kondisi ini tidak dapat ditangani secara parsial. Pemerintah kabupaten dan kota, bersama aparat serta instansi teknis, harus bergerak dalam koordinasi yang lebih kuat untuk mencegah api meluas. Penanganan Karhutla Sulteng membutuhkan sinergi semua pihak.
Menurutnya, kondisi kekeringan memiliki hubungan erat dengan meningkatnya kejadian Karhutla Sulteng. Kekeringan tercatat mencapai kondisi puncak pada Agustus, dan pada periode yang sama, kejadian kebakaran juga mengalami peningkatan.
“Ini tentu seiring dengan grafik terjadinya kekeringan,” kata Anwar Hafid.
Meskipun pemerintah bersama aparat telah melakukan pemadaman dan berbagai langkah penanganan, Anwar Hafid meminta kewaspadaan tetap dipertahankan memasuki September. Ia mengingatkan bahwa turunnya hujan di sejumlah daerah belum menjadi alasan untuk mengendurkan kesiapsiagaan, terutama apabila kondisi kering masih berlangsung di wilayah lainnya.
“Kita tetap harus waspada kalau sampai kekeringan ini terus masih berlangsung begitu lama,” ujarnya.
Rapat koordinasi juga membahas langkah penanganan bersama yang melibatkan unsur Forkopimda dan pemerintah daerah. Sejumlah instansi teknis turut memberikan paparan, termasuk unsur TNI, perangkat daerah, kehutanan, perkebunan dan peternakan, BKSDA serta Balai Pengendalian Kebakaran Hutan.
Gubernur berharap koordinasi tersebut menghasilkan langkah yang lebih cepat dan terpadu sehingga kebakaran Karhutla Sulteng tidak semakin meluas. Penanganan karhutla dinilai penting bukan hanya untuk melindungi kawasan hutan dan lahan, tetapi juga mengurangi risiko kerugian yang dapat berdampak kepada masyarakat serta lingkungan sekitar.*/mn